Jumat, 15 Oktober 2010

Tetap Semangat!!!!

diskusi sabtu pahingan pertemuan ke-7 ditempat saudara Dani, dihadiri oleh 7 orang, dengan narasumber terbatas, dipimpin oleh tetua Pdt.Radhitya. walau minim peserta dan sumber, namun sabtu pahingan kali ini bertemakan tetap semangat!!!

Hasil Diskusi Pertemuan VII

Rumah Dani, Jumat, 15 Oktober 2010
Penanggalan Jawa

Hadir: Dani, Didit, Kristi, Martinus, Eri, Vicky

Pemimpin: Didit
Penambat: Kristi
Pemateri: Dani

Presentasi Dani
Penghayatan kalender
Jawa: padinan, pasaran, bulan. Penghayatannya dalam.
Kristen: kalender gerejawi

Didit: mengapresiasi tulisan ini.
1. Baik kalender Jawa maupun Kristiani berfungsi menjadi penanda yang memperlihatkan kemampuannya mengapresiasi kehidupan.
2. Yang menarik: melihat tradisi lain dalam melihat kalender dari sudut pandang sebagai bagian dari komunitas tertentu. Sebagai orang Jawa melihat dan memaknai ulang tradisi kekristenan yang diperhadapkan kepada kita. Sebab selama ini tradisi Jawa yang ditarik ke dalam tradisi Kristiani.
3. Ada sistem yang belum disampaikan, yaitu apa pijakan yang digunakan saat melakukan apresiasi dan memunculkan kalender. Jawa: bulan, Masehi: matahari. Di Kristen, yang menggunakan bulan adalah menentukan Paskah.
4. Dalam menggunakan kalender yang mengapresiasi kehidupan, semuanya adalah untuk menemukan hal yang baik. Misalnya, untuk menikah ya menentukan yang baik. Di Kekristenan ada penentuan terhadap hari yang harus dirayakan: mengenang kehidupan Sang Yesus sendiri.
5. Jawa: siklus saptawara-padinan (7 hari) & pancawara-pasaran (5 hari).
6. Bulan, sama 12, tetapi lamanya yang berbeda dengan masehi.

Kristi: kalender kristiani itu kalender gerejawi? Soalnya kalau siklus natal, pakai matahari. Kalau siklus paskah, pakai bulan. Yahudi: belum ada natal. Tahunnya pakai bulan.

Didit:
Kalender kristiani:
1-3 natal romawi
4 natal koptik
5-12 yahudi

Martinus: Hari-hari Jawa habisnya jam 8 kan?
Didit: ada beberapa versi, tapi yang paling umum adalah berdasar matahari tenggelam. Ada yang setelah jam 12 siang.
Biston: lahir Selasa Kliwon malam, dianggap Rebo legi. Alasannya, karena weton rebo legi lebih nyaman untuk disandang.
Martinus: ada beberapa versi ya? Lalu yang bagaimana?
Didit: dari pakde, tidak banyak yang tahu kalau setelah jam 12 siang sudah berubah pasarannya.
Martinus:
Didit: puasa bergantinya waktu mendekati jam 6
Kristi: pengetan 7 hari dll itu selalu malamnya, seperti Setu paingan. Seperti pas bapak meninggal, seperti Yesus.
Didit: menariknya, orang eropa tetap pakai paskah minggu
Ada elastisitas dalam Kristiani dan Jawa. Namun tidak pernah tersosialisasikan kepada jemaat/orang kristen lainnya. Bedanya antara orang Kristen dan Katolik: Katolik paskah, Kristen natal. Ini akibat perseteruan, sehingga menjadi pembeda antara Kat-Prot. Sebab sebelumnya ya paskah itu yang menjadi momen terpenting. Itulah sebabnya orang katolik sangat luar biasa dalam merayakan paskah. Protestan sekarang masa paskah ada perjamuan dan tidak dipandang sebagai pk reguler. Tapi pas natal tidak ada pk.

Vicky: pada bulannya orang jawa, puasanya apa ya pas pasa?
Didit: bulan pasa baru digunakan setelah waktu sultan agung yang menggabungkan jawa dan islam. Sekaten & grebeg awalnya bukan islam, tapi dipakai islam. Selama bulan pasa ada tadarus dll.
Intermezo: salah seorang paranormal di Jawa, plat nomernya pakai tahunnya sultan agung menggabungkan kalender jawa islam.
Vicky: penganggalan jawa apakah yang ada di almanak?
Didit: mungkin itu pranata mangsa. Jawa mengapresiasi kehidupan pertanian.

Martinus: mengapa waktu bagi orang jawa sangat penting? Misalnya, bepergian. Apakah karena pengalaman lalu jadi patokan.
Didit: orang Jawa dikenal dalam kemampuannya menandai: titen, pranata mangsa muncul dari kebiasaan yang dititeni dan dicatat. Pranata mangsa itu terbitan tahun sekian. Sekarang harusnya kita mampu menyusun pranata mangsa yang sesuai dengan kondisi sekarang. Padahal sekarang tidak banyak yang punya kemampuan mencatat. Misalnya selasa tidak dipakai untuk pertemuan penting karena selasa = sela-selane dina.

Islam: Jumat solat jumat
Didit: pasar sesuai pasaran  mengurangi konsumerisme

Martinus: kenapa pahing paling besar?

Martinus: kalau anak sekarang tidak ngerti petung, lalu bagaimana? Kalau tadinya tidak tahu, sekarang tahu, jadi khawatir
Eigner: selama masyarakat percaya, ya itu ada
Didi: kita harus rumuskan yang sekarang

Vicky: pranata mangsa itu bulan atau bintang? Terus apa kaitannya dengan bulan tadi?
Didit: ketika menghitung bintang (niteni bintang), ya pakai bulan apa saat itu…
Ketika bumi berputar mengitari matahari, muncullah bintang. Hahaha
Dari Israel ke Asia: kritikan

Didit: Sura: dipakai oleh Kraton, sehingga disengkerke. Selain itu titik matahari, bulan, bumi pas kentheng2nge sehingga untuk mepe barang aji isa garing tuwa. Jawa: pasti ada cerita

Kristi: tahun masehi maret bulan 1

Didit: perandingan dan penyamaan, tetap ada apresiasi terhadap penanggalan untuk mencapai kebaikan

Eigner: penanggalan Barat: dengan perhitungan logika. Sedangkan orang Jawa dengan pengalaman/peristiwa.

Bahan Diskusi Pertemuan VII

Perbandingan Pemaknaan Kalender Jawa dan Kristiani

Kenapa saya memilih topik ini?
Saya ingin mengenal dan menggali lebih dalam, makna yang sesungguhnya apakah nantinya kalender tersebut berlangsung dengan baik.

Yang menarik dari cara Orang Jawa dalam memperlakukan Kalender Jawa.
Sistem Kalender Jawa lebih lengkap dan komprehensif apabila dibandingkan dengan sistem kalender lainnya, lengkap dan komprehensifnya adalah suatu pembuktian bahwa ketelitian Jawa dalam mengamati kondisi dan pengaruh seluruh alam semesta terhadap planet bumi seisinya termasuk pengaruh kepada pranatan kehidupan manusia.
Kalender Jawa adalah sebuah kalender yang istimewa karena merupakan perpaduan antara budaya Islam, budaya Hindu-Buddha Jawa dan bahkan juga sedikit budaya Barat. Dalam sistem kalender Jawa, siklus hari yang dipakai ada dua dari sekian banyak siklus hari yang ada yaitu, siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu), dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari 5 hari pasaran (Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage).

Dan yang menarik bebrapa contohnya, adalah :
• Orang Jawa bilamana memiliki sebuah acara /hajatan seperti hajat perkawinan, mendirikan rumah, biasanya mencari hari yang baik.
• Orang Jawa juga sangat percaya adanya watak yang diakibatkan dari pengaruh Dasaran.
• Orang jawa mempunyai keyakinan bahwa saat dilahirkan manusia tidak sendirian karena disertai dengan segala perlengkapannya. Perlengkapan itu merupakan sarana untuk bekal hidup dikemudian hari, yaitu bakat dan jenis pekerjaan yang cocok. Di dalam ilmu kejawen kelengkapan itu dapat dicari dengan petung hari lahir, pasaran, jam, wuku tahun dan windu.
• Untuk usaha perdagangan orang jawa yang masih percaya pada petung, akan menggunakannya baik untuk menentukan jenis barang maupun tempat berdagang dan sebagainya. Petung tersebut didasarkan weton (kelahiran dari yang bersangkutan)


Yang menarik dari cara orang Kristen dalam memperlakukan Kelender Kristiani.
Kalender Kristen adalah istilah tradisional digunakan untuk menunjuk kalender umum digunakan, meskipun berasal dari Roma pra-Kristen. Kalender ini digunakan oleh Amerika Serikat, dan sebagian besar negara di dunia termasuk negara kita.
Waktu adalah digunakan untuk berbagai fokus pada aspek Iman khususnya misi gereja di dunia. Beberapa tradisi gereja membagi waktu biasa menjadi beberapa musim, dan dikalenderkan seperti berikut :
Masa Advent (28 November - 24 Desember, 2010)
Natal (25 Desember 2010 - Jan 5, 2011)
Dua Belas Hari Natal (25 Desember 2010 - Jan 5, 2011)
Epiphany (dan Waktu Biasa sampai Prapaskah) (6 Januari - 8 Maret 2011)
Shrove Selasa atau Mardi Gras (8 Maret 2011)
Rabu Abu (9 Maret 2011)
Prapaskah (Maret 09-23 April 2011)
Pekan Suci (17 Maret - 23 April [24], 2011)
Kamis Putih (21 April 2011)
Jumat Agung (22 April 2011)
Paskah (April 24, 2011)
Pentakosta (12 Juni 2011)
Biasa Waktu (13 Juni - 26 November 2011)
(Dennis Bratcher, © Hak Cipta, Dennis Bratcher - All Rights Reserved)

Dan yang menarik adalah :
Orang Kristiani


Yang bisa disejajarkan dari cara orang Jawa dan Kristiani dalam memperlakukan penanggalannya.
• Menyatakan kebenaran atas dasar prinsip-prinsip kebenaran.
• Kesadaran akan kesamaan kultural, termasuk rasa kebangsaan, yang menekankan semua orang lebih banyak kesamaan darpada perbedaan.
• Adanya komitmen religius dan komitmen lainnya yang cenderung memberikan keseimbangan.

Harapan bagi orang Kristiani Jawa pada saat ini dan masa yang akan datang, yakni ;
• Harus memelihara secara kelanjutan sejarah tradisi tersebut agar tetap terpelihara dengan baik. Unsur tradisi yang asli dan yang masih berguna, baik dan luhur tetap kita kembangkan dan dibina terus, sedangkan yang sudang usang , tak berguna dan menghambat kemajuan harus kita tinggalkan saja.
• Adanya pengaruh dari luar di sekitar kita, kita harus bersikap terbuka namun kritis dan selektif artinya bahwa hanya unsur-unsur yang kita nilai dapat memperkaya dan mempertinggi mutu tradisi kita, dapat diambil dan diterima setelah di cerna/diolah dan disesuaikan dengan kepribadian tradisi kita.
• Kemudian bersama-sama dengan tradisi-tradisi yang lain diusahakan terbinanya tradisi dunia sebagai tradisi kesatuan umat manusia sedunia tanpa mengorbankan identitas tradisi masing-masing.

Sabtu, 05 Juni 2010

Hasil Diskusi Pertemuan IV

Diskusi Setu pahingan Jumat 4 Juni2010 di Karangdwo ; Kawruh Jiwa
yang hadir :
1. Tatok
2. Didit
3. Trisno
4. Eigner
5. Kristi
6. Pakde gun
7. Eric
8. Vicki

Didit:
Pengantar dengan pembacaan makalah mengenai kehidupanSuryoMentaraman Rasa ingin bertemu dengan orang meski dengan sudah menjual seluruh hartanya dan bahkan dalam perjalanannya bahkan dianggap sebagai penyembuh dia juga masih bertanya-tanya tentang belum bertemu dengan orang.
Pengaaman dalam bertemu dengan orang dialami pada saat kali opak banjir dan dia menyeberang dan sampai di tengah suryo mentaraman gelagapan dan pada saat itulah dia baru merasakan bahwa dia merasa bertemu dengan orang
Jiwa adalah yang tidak kasat mata dan raga adalah yang kasat mata
Rasa yang tidak dapat dipahami itu adalah
Rasa itu ajeg
Yang perlu dipelihara menurut dia adalah rasa ajeg
Menurut suryo mentaraman supaya tidak jatuh dari neraka itu adalah dengan memelihara rasa ini.
Tugas manusiaadalah mengenal kemunculan dari karep

Tatok :
Sejauh yangsaya tahu
Memang padapertanyaan yangdiajukan leh surymentaraman samadengan yesus siapakah sesamaku manusia. Itu yangselalu ditanyakan artinya sdiatidaktahu siaakah manusaia makadiatidak tahu bahwadirinya sendiri adalah manusia nah dari pergumuan yang dahsyrat ituah surymengambilpengalamanpalingtragis danitu adaengaruh budhisnya yaitu pada saat orangterjatuh pada titik palingtragisorang akan menemukan pencerahan.
Danada yangfokus kepsikologisnya seperti darmantoyatman bagaimana suryomembangunkonseppsikologisrang jawa segala macamperasaan yang bisadimunculkan leh orang danyang bisamulur mungkt\ret dan itu berkaitanjuga dengan kosmoogi orangjawadanapa yang sangat eksistensialmilikkhasnya suryo adntaradikotomiitu tidak menjustifikasi dan ini yangberbeda padaknsepgamapadaumumnya dan sebaliknya tidak dan au dihubungkan sedengan keselamatan.Suryomentaramantidaky justru kalau orangmampu berada diatas segaanya itu. Nah orangharus bisamasukkerasa. Kebahagiaan akan kurang ketikaterpengaruh rasanya Rasa adalah tetap ! orang mengenalikembalipada intihidupnya yangmenurut suryomentaraman yangtidakdipengaruhi oleh keadaan yang diahadapi. Nahitu dari sisi psikologikanpengaruhnya sangat banyak cnth sederhana saja orang jawa ini yangpernah diprotesistrinya penginjildari beanda yangpernah datang diGKSBSkepada ajajran jemaat masak ada seorang ibu yang kehilangan anaknya dengan tragis besoknya kami datang dengan kesedihan ibu itu bisa tersenyum dan berscerita dengan tenang dan sukacuita. Nah penginjil itu kan orang belanda sehingga rasanya sedih adalah begini tapi kalau orang jawa tidak menurut suryo mentaraman.
Jangan dikira kalau orang jawaomong menulis itu tidak terstruktur dan tidakada referensinya. Manusia jawaitu tahu karena ada rasa.dirasa.
Kalau ini kalau orangkristen itu yang kekaladalah logos yang adalah Allah nah kalau suryo puncakspiritualitasnya adalah rasa. Nah ini masalahnya.
Nah kalau yangbuku-buku olmiah yang terakhir itu yang menmggugat tentang monteisnya berger itu kenapa kekristenan memusatkan padalgos lalu dkembangakankepadareformasikemudian pencerahanlalu fkusnya padailmu dan pengetahuan.Sisi yang berbeda dikesampingkan.

Didit :
Orang yang dicari adalah bejo dan ssama seperti yesus.Semua itu karep

Vicki;
Jadi yang dicari Suryo adarasa ya ?

Tatok ;
Kabegjan itulah yangdia cari lha menariknya adalah dia yang menciptakan rasa

Vicki :
Seperti yang saya bacapadanoveldan terbantu setelah membaca buku harun

Tatok :
Hati hati dalammembacabuku harun karenadiamembaca jawa dengan kacamatakristen
Kalau difilsafat modern yang bisa dipadankan itu kalau rasa itu dilihat sebagai sebuah sistimpengetahuan dia itu adalah engetahuan yangtidak bisadijelaskan dan setiaporangunya kenapaserangbidan sama=samadididikdiperguruan tinggi yang samayangsatu lenbih disenangiorang yang laintidak.beda dengan ahli kompyangpunya keahlian yang sama. Kenapapetani sama-sama mengetahui soalpertanian tapi ada yang hasnya baikdan yang satu tidak.Nah itu menurut pengetahuan modern ada satu pengetahuan yangtidakdimiliki olehorang tersebut.

Didit :
Saya pernahdijelaskan saat pakde belummeninggal bukak jendela adasinar nah itu yang dinamakan bejo

Tatok :
Itu samadengan anekdotnya tentang tidur,tidur hanya bisa diterimabukan dikarepkeatau dijadikan kabegjan.

Kristi :
Berarti tidakbergantung padasebab akibat.

Tatk :
Tapi proses dia kan memang melewati itu juga. Dia masuklebih dalam sekedar kausalitas,sebab akibat,

Vicki :
Kalau begini bisadisamakan dengan pengalamansiritual

Tatok :
Puncakpengalamans[puncaknya suryo adalah di sngai,yesus digetsemani,muhammad miraj,

Vicky :
Saya juga pernah mengalamaihal itu saya akan menabrakmobil saya remdanmuter rasanetreceb-treceb

Tatok :
Itu kan jugapentgaruh islamajuga bahwa catatan dalamdiri manusia adalahknsepdasarnya orang sejaklahiradalahkosong bersih seperti buku putih.tapi itu juga jangan langsung diterimakarena sanga tbertentangan dengan iman kristen.

Didit :
Yang menarik anak-anakdari Suryo banyak yang masuk katolik

Tatok :
Kenapa gereja katolik bisa menjadi besar dan aman di jogya karena bisa inkulturasi.

Kristi :
Yang menjadi rumit adalah dalampenjelasan bahwa rasa yang adaadalah rasa takut,marah

Tatok :
Rasa yang sudah diberi predikat

Vicki :
Kalau suryo yang diajarkan masalah jiwa ya ?

Tatok :
Bukan ! tapi masalah rasa.Jiwatapi bukan dalam arti jiwa yang kekal.

Kristi :
Apakah bisa dipadankan dengan damai sejahtera ?

Tatok :
Entahitu masih sesuatu yang dikarepke mungkinklaau bentuknya sama tetaiitu kan kaau di riten adalah ajaransesuatu yang harus diajarkan.Surymentaraman justru tidaksuka bahwa rasa itu tidak bisa dicari tapi diterima

Didit ;
Damasejahtera dikatakan suryo dengan tatag ketikaorangsudah menemukan rasa itu

Tatok :
Itu yang sedang dicari perdamaian sejati itu yang seperti apa sih / ada yangdengan pendekatankonflik lah nah ada yang spiritualis modern mrekart itu yang mempelopri yangterus dikutipbanyak tokoh bahwa perdamaian itu adalah orangharus diajari dengan melihat dirinya sendiri.
Kalau dalam istilah kekristenan itu sendiri adalah berserah.

Rabu, 02 Juni 2010

jangan lupa...

Jangan lupa pertemuan selanjutnya tanggal 4 juni di pastori Pdt.Radhitya GKJ Karangdowo jam 21.00

Bahan Diskusi II

Generasi Pasca-Transmigran
(Transmigrasi dari Jawa ke Sumatera)

Pendahuluan

Generasi pasca transmigran yang saya maksudkan adalah generasi pertama transmigran yang memiliki keturunan (keturunan ke 2 dst) yang lahir di tanah transmigrasi. Transmigrasi mempunyai arti perpindahan jiwa dari satu tempat (asal) ke tempat lain yang bukan asal asli mereka.
Hal ini menjadi menarik untuk saya angkat dalam diskusi ini karena banyak hal seperti proses adaptasi sampai pada transformasi budaya yang membentuk budaya baru pada generasi selanjutnya. Pada dasarnya generasi ke 2 dst, sangat mempertanyakan budaya asli mereka, atau secara singkat mereka mengalami suatu kebingungan akan identitas budayanya karena mereka di lahirkan dan hidup pada dua budaya yang berbeda (antara budaya dari orang tua dan budaya baru yang mendidik dan membesarkan kehidupan mereka).

1. Zaman transmigrasi awal (proses adaptasi dan transformasi budaya).

Transmigrasi adalah perpindahan jiwa (sekelompok orang) kedaerah baru, transmigrasi (penyebaran penduduk) sebenarnya sudah ada jauh sebelum masa kolonialisme, perpindahan penduduk itu disebut transmigrasi klasik. Istilah transmigrasi menjadi popular ketika pemerintah colonial Hindia-Belanda mencanangkan program transmigrasi sebagai politik etis (politik balas budi). Hal ini dilakukan oleh pemerintah Hindia-Belanda yang konon untuk mengurangi kemiskinan di pulau Jawa dan memperbaiki ekonomi mereka yang diberangkatkan sebagai transmigran. Kemudian program transmigrasi tidak lagi dari pulau Jawa saja, tetapi juga dari luar Jawa seperti Bali, Sulawesi, Madura dll. Tetapi dalam jumlah yang relative kecil tidak seperti transmigrasi yang diberangkatkan dari Jawa.

Dari awal mula (generasi pertama) transmigrasi ini sudah terlihat adanya sebuah percampuran penduduk, yaitu penduduk asli dan penduduk pendatang yang memiliki budaya yang berbeda dalam “perekonomiannya”. Percampuran penduduk itu sudah bisa disebut plural yang mengakibatkan adanya suatu konflik antara penduduk asli dan pendatang dan antara penduduk pendatang. Tidak jarang juga dalam proses adaptasi itu ada terjadi perbedaan budaya yang mengakibatkan konflik dan hal itu sangat wajar terjadi dalam perjumpaan antar budaya. Salah satu contoh yang tidak asing lagi yaitu; orang Jawa menyebut orang asli Sumatra dengan nama “Mbelung” ang berarti orang yang tidak mengenal sopan-santun/tata krama. Kemudian sebaliknya orang asli Sumatera menyebut orang perantauan dari Jawa dan yang lainnya sebagai penjajah yang mengusik kehidupan mereka, Konflik kekerasan antar suku. Dan masih banyak lagi stigma-stigma yang kurang baik dari kedua suku yang berbeda untuk saling menjelekkan. Tidak sedikit juga orang transmigran memilih pulang kekampung halamannya yang semula, karena ketidakcocokan dengan perjumpaan-perjumpaan budaya yang terjadi, yang dirasakan kurang mengenakkan, karena dikampung halamannya mereka merasa lebih nyaman.

Dari konflik dan perjumpaan-perjumpaan itulah yang menjadikan adanya transformasi budaya sehingga menjadi sebuah budaya baru tanpa melepas budaya asli mereka (menyadari pra-paham mereka atas percampuran/perbedaan-perbedaan budaya yang terjadi). Ini adalah fenomena yang terjadi dari generasi pertama yang bisa disebut generasi “Bapak” bagi generasi kedua dan generasi “Simbah” bagi generasi ketiga dst.

2. Generasi pasca-transmigrasi.

Generasi pasca-transmigran yang saya maksudkan disini adalah generasi kedua atau anak-anak yang lahir di daerah transmigrasi atau yang akarab disebut “Puja Kesuma (putera Jawa yang lahir di Sumatera)”. Dalam generasi ini banyak terjadi kasus-kasus unik seperti:
1. pencarian identitas budayanya,
2. pergulatan psikis anak-anak “puju kesuma” (suatu harapan/keinginan ketika ia kembali ketanah leluhurnya atau hanaya sekedar berkunjung kepada sanak saudara di tanah Jawa ia ingin ada status “persamaan” dan tidak di nomor duakan sebagai anak-anak transmigrasi),
3. keinginan untuk memahami budaya aslinya (tradisi leluhurnya).

Pergolakan yang dialamai ini adalah akibat dari perjumapaan dengan budaya-budaya lain di tanah perantauan, perjumpaan lintas budaya itu menjadikan suatu budaya baru dalam kehidupan orang transmigrasi dan budaya baru itu adalah yang budaya menjadi budaya asli anak “Puja kesuma”. Anak-anak yang lahir dalam konteks transmigrasi mereka mempunyai 2 unsur budaya yang berbeda;
1. budaya yang berasal dari orang tuanya
2. budaya yang terbentuk dari transformasi budaya yang kini menjadi budaya anak “puja kesuma”.

Pertanyaan terbesar anak puja kesuma yang sering muncul adalah “saya orang mana?”, dalam benak anak transmigran pertanyaan yang seperti ini sangat wajar terjadi dan terkadang juga tidak disadari. Tetapi kebanyakan jawabannya ialah “saya orang sumatera tetapi bapak-ibuku orang jawa”. Hal menarik lainnya ialah kebanyakkan anak “puja kesuma” sudah tidak memahami bahasa Jawa, mereka bisa berbahasa Jawa tapi dalam konteks bahasa sehari-hari (bahasa ngoko dan ngoko halus). Bahasa mereka sudah kurang memahami, apalagi persoalan budaya dan adat istiadat asli Jawa, mereka sudah tidak memahami lagi. Sedikit kemungkinan ada yang masih memahami. Dari hal semacam inilah ketika mereka pulang ke Jawa, menuntut ilmu (kuliah) atau hanya sekedar menjenguk sanak saudara, mereka sering kali merasa bingung dan “rikuh” atas budaya asli Jawa. Mereka merasa menjadi yang nomor dua dan agak sulit mendapat pengakuan sebagai orang Jawa seperti bapak-ibunya dulu.

Suasana yang semacam inilah yang terjadi pada anak-anak yang lahir dari daerah transmigran dan saya juga termasuk anak-anak transmigrasi yang kehilangan budaya asli Jawa dan berganti dengan budaya baru, (budaya akibat adanya transformasi dari budaya-budaya yang berbeda). Saya menilai bahwa saya adalah anak yang berada dalam generasi “magel dalam hal pergolakan budaya”. Inilah penilaian saya dan refleksi saya selama menjadi anak yang lahir dalam budaya baru (transmigran). Sungguh menarik dan unikkan, lahir sebagai anak transmigran yang hidup dalam 2 dunia budaya?




3. Perbandingan Teologis

Sebagai perbandingan teologis saya mengangkat kisah perantauan bangsa Israel ke tanah Mesir. Saya mengangkat kisah ini karena sangat menarik dan hampir menyerupai system transmigrasi klasik. Kisah perantauan Bangsa Israel ke tanah Mesir sebenarnya adalah kisah perpindahan yang dilatar belakangi oleh factor ekonomi (factor peceklik pangan pada zaman Yakub) dan berakhir menjadi perbudakan yang dilakukan oleh Bangsa Mesir. Dapat dibandingkan dalam Kitab Kejadian 37:1-50:26. Perbudakan itu bisa dipahami seperti kerja rodi pada zaman penjajahan Jepang di Indonesia. Karena sudah merasa tidak lagi nyaman, kemudian Bangsa Israel memutuskan kembali kenegri asal mereka yang dipimpin oleh Musa dan pada akhirnya tanah Kanaan menjadi tempat menetap mereka yang disebut-sebut sebagai tanah leluhur mereka dahulu. Sekilas kita bisa melihat pada masa perantauan Bangsa Israel di Mesir ada suatu perbedaan budaya dan perbedaan budaya itulah yang menjadi benturan utama mereka pada mulanya. Contoh yang menonjol ialah masalah perbedaan kepercayaan, Bangsa Israel menganut paham Mono Theis sedangkan orang Mesir menganut paham Poli Theis.

Masa perbudakan Bangsa Israel di tanah Mesir kita bisa memandang dari sisi lain sebagai benturan budaya-budaya klasik pada umumnya. Pada umumnya budaya klasik memiliki pemikiran siapa yang kuat itulah yang berhak untuk memerintah. Kisah perbudakan Bangsa Israel ditanah Mesir dapat dipahami juga sebagai konflik karena adanya percampuran budaya di tanah Mesir. Puncak dari konflik-konflik itu adalah kisah Keluaran sampai dengan kembalinya Bangsa Israel ke tanah leluhurnya.

Dari penyebaran pertama (zaman Yusuf menjadi orang penting di Mesir), orang-orang yang berangkat ke Mesir juga tidak sedikit, karena kebutuhan mempertahankan hidup mereka. Dari orang-orang yang datang ke Mesir mereka mempunya keturunan disana sampai beberapa generasi dan generasi-generasi yang lahir di tanah mesir itu mempunyai dua kebudayaan yang berbeda yaitu budaya dari orang tuannya dan juga budaya Mesir yang membesarkan dan mendidik mereka. Juga sesampainya mereka (generasi ke 4-5) ketanah Kanaan setelah masa keluaran (Exodus), mereka juga kehilangan identitas dan merasa menjadi agak asing dengan budaya di tanah leluhur mereka. Walaupun ada pergeseran budaya yang mereka miliki tetapi mereka tetaplah orang Israel tetapi yang lahir di tanah Mesir ataupun mereka yang lahir di padang pasir (ketika masa keluaran).


Sebuah Refleksi

Pergeseran budaya itu sungguh amat wajar dan pasti akan terjadi pada setiap budaya-budaya di dunia. Karena zaman terus berubah dan budaya manusia juga turut berubah seiring dengan perkembangan zaman. Budaya asli yang semula kuat di pegang oleh para leluhur kini masih ada tetapi banyak terjadi pergeseran pemahaman atau bahkan sudah hilang seiring dengan perjalanan zaman.
Sebenarnya menjadi generasi yang lahir di tanah perantauan yang terjadi silang budaya, tidaklah perlu merasa kecil hati, merasa menjadi yang nomor dua atau yang nomor sekian. Semuanya itu sama saja, hanya seakan-akan jika lahir asli di tanah leluhur, mereka lebih mempunyai derajad yang tinggi daripada mereka yang lahir di tanah perantauan. Itu semata-mata hanyalah stigma buruk saja yang sebenarnya tidak pas. Memang pada mulanya terjadi perpindahan penduduk (transmigrasi), kebanyakan mereka adalah orang yang miskin atau orang yang mempunyai suatu keburukan dalam masyarakat. Mereka mengubah nasib di tanah perantauan dan berusaha merubah citra buruk yang dimilikinya dahulu. Anak-anak yang lahir di tanah transmigran juga mewarisi stigma buruk yang di bawa oleh orang tuannya dahulu , tetapi itu hanyalah sebagian kecil saja. Ini adalah refleksi dari kisah saya sebagai anak transmigran dan juga mewakili kisah teman-teman saya baik teman pada masa kecil, remaja dan sampai saat ini yang sama-sama lahir di tanah sabrang yang memiliki suka-duka yang hampir sama sebagai anak transmigran.






By. Vicky ts






BIODATA

Nama: Vicky Tri Samekto
Tempat dan Tanggal Lahir: Air Sugihan, Kab. Musi Banyu Asin Sumatera Selatan, 27 September 1987
Email/phone: Ken_arok72@rocketmail.com, phone: 085664723623/087838139625
Mahasiswa Teologi STAK MARTURIA 2009/2010 YOGYAKARTA.

Hasil Diskusi Pertemuan II

Diskusi ke dua sabtu pahingan di rumah pak tatok, 19 Maret 2010

Yang hadir :
Pdt. Didit
Pdt. Ika
Pdt. Kristi
Pdt. Tatok
Edi Guntoro
Vicky
Victor
Erri
Martinus
Trisno


Perjumpaan dan kita sadar benar baahwa dalam kehidupan kita sehari=hari kita selallu bertemu dengan tuhannya sendiri-sendiri (Kontektualisssi)
Bagi orang jawa konsep adalah belakangan yang penting cara pandang setelah iotu baru orang bisa membangun sebuah jkonteks tertentu berbeda dgn orang diluar jawa yan mementingkan konsep adi tentan tuhan itu konsepnya dulu kalau orang jawa apa yang kamu rassakan apa yang kamu alami .

Tatok ;
Kalau kamu apa yan kamui fahami
Ika :
Tiodak tentu, kadang tiba-tiba tapi sesuatu yang mujngkin karena dibiasakan jadi konsepnya dulu
Gun:
Theologi ini di cerita sampai sekarang yang ilahi itu sendiri bagaimana ? misalnya ya percaya adanya TUHAN tapi ternyata dalam kebudayaan budaya jawa misalnya bersih desa lakone sri mulih karena begitu percaya ya percaya dengan TUHAN, TUHAN itu yang mana dan saya minta penjelasan. Nah bertani itu bagiamana sebelum menanam itu bagaimana ? ditanya percayane karo sopo ? ya kepadda yang berkuasa. (TUHAN) nah itu kalau hubungannya dalam agama yang tidak jelas lagi misalny hanya untuk makan saja minta kepaa TUHAN Paahla menurut saya ini dalam jawa.

Tatok :
Jadi ada sesuatu yang baru kemarin pak folker waktu kesini yang sedang menekuni seni lukis ind jaid dia memang teologi prof dari elanda yang mengekspresikan imannya. Dia membuat pernyataan yang sederhana saja kalau kalian inigin balajar tentang kontekstual kali an punya modal begitubanyak belajar opada oara seniman padda para budaya disini. Jadi yang disampaikan mas gun ya benar misalnya merefleksikan TUHAN pada saat nonton wayang, bertani ya bertanya pada dalang atau tanya pada pelakunya. Nah ini adalah sesuatu yang baru segala sesuatu beranya [ada ara teolog sekarang tidak lagi. benar jika untuk urusan berdasrkan di Alkitab lewat pendeta.. Jadi ini justruiu menguatkan mengenai cara pandang atau konsep.

Ika :
Celakalah kita yang merefleksikan sesuatu lewat konsep ebagai orang muda
Tatok:
Itu adalah proses dan itu kenyataan bahwa sebagai sebuah konstitusi agama bahwa agama itu memberikan sebuah pegangan. Dan pada akhirnya terlena pada apa yang menjadi pegangannya. Jadi untuk mas gun lebih baik berani bertanya. Tapi bagi seniman dan pelaku buaya itu adalah suatu hal yang biassa.
Gun:
Saya pernah dengan tokoh muhammadiyah bertanya tentang TUHAN ya sampai saat ini ya tidak jelass.
Tatok
Ya itulah perjumpaan antara cara [andang dan konsep dan akan selalu kita alami
Didit :
Antara konsep dengan sesuatu yang penanaman dari keluarga dengan masyarakat dijelaskan dulu. Konsep yang senantiasa berkembang
Tatok
Selain yang berangkutan lingkungan kan juga mempunyai pengaruh yang kuat karena ini adalah sesuatu ya ghidup dan berpengaruh tidak hanya sesaat
Didit:
Harus ad astandarnya tidak ?
Tatok
Nah itu adalah kekeliruan cara pandang teologi kepada seniman.
Gun :
Sebenarnya orang kesenian punya konsnep
Tatok :
Ya dan berbeda dengan konsep ini.
Didit :
Kitaharus dapat menjembatani agar tidak memandang seniman adalah liar.
Tatok ;
Setiap seniman punya konsep namun kita haruis melihat bahwa dia seenarya punya konsep
Gun :
Mungkin orang kesekian konsepnya tidak sama kalau teologi kan seragam
Tatok :
Kalau orang kesenian konsepnya kan sudah baur.
Didit :
Pengalaman dengan mas un itu ketika ngamel semua orang bisa mengikuti namun ketika ditanya mrkk yang ditany aapa yan kamu daoatkan ya bingung juga.
Victor :
Sebuah p[ertany amengenai hal kontekstual berkaitan dengan budaya aaaasekaligus yag pujakesuma konsep kontekstual itu ……

Vicky :
Yang mendasari ini adalah pergumulan tentang tanah karena begitu banyak orang jawa mendiami setiap tanah samapai dimanapun. Dan ini adalah refleksi saya saat bertanya-tanya saya ini benar-benar orang mana saya orang jawa disini saya disebut orang suatera.Dulu saya membaca tesisnya pak Tatok tenryata iya saya mepunyai 2 budaya antara orang tua dan lingkungan pasti sudah ada pergeseran budaya.
Adaptasi terhadap ddaerah setempat selalu diwarnai dengna konflik.

Tatok :
Jadi kalau memulai sebuah efleks adlaah yang paling efektif adalah berbicara megenai tanah sebab orang yang masih terikat dnegan teritori itu sendiri karena tanah tu adalah nya sadumuk batuk senyari bumi.

Vicky :
Sisitheologis say amemandang perpindahan bangsa israel ke mesir adalah masalah pangan.

Tatok :
Bagi orang jaw amalu adalah sesuatu yanpalin penting orang sampai berani mati untuk menghindari rasa malu. Beda dengan orang barat yang memeprssalkan salah aau nbenar itulah yang diutamakan bahkan dalam urusan teologi Dosa itu salah atau benar. Beda kalau orang jawa dosa itu adalah malu atau tidak.
Jadi selain tanah yang ingin ia refleksikan dan masalah rasa.
Bagaimana orang jawa berteologi.

Ika :
Kebali pada persoalan sebenarnya didunia ini kan banyak perantau mislnya orang cina, jaw ayang di suriname apakah mereka juga masih bertanya tentang diri.
Tatok :
Itu ada contoh yang menarik ketika gusdur mengakui confiusisme menjadi agama Konghucu saya kira begitu juga kesadaran yang muncul yaitu ketidak beranian untuk melihat bahwa kita ini campuran kalau mau diistilah kan sinkretis ya sinkretis. Ibu saya itu kan anaknya dalang dan menjadi kristen karena mendapat bapak saya yang berasalah dari desa kristen. Dan dalang aman dulu itu tidak masalah dia beragama apa. Dan dia dengan mudahnya menggambarkan dengan wayang . Nah ibusa ysaya itu kalau nyekar selalu tegang baru-2 kali inilah bahwa kalau ke kuburan itu harus berdoa. Nah karean dia itu kristen yang notabene tidak boleh berdoa di kuburan.. Artinya kita harus mulai itu kita selalu berada di persimpangan dan itu semua ada kallau mas gun mebuat notasi musik gitu apakah harus selalu ada musik kristen ?

Gun :
Tidak !

Victor :
Saya merasa setelah hadir di jawa ini, saya menjad rang jaw ayang sanga smatera dan ketika pulang menjadi sangat sumatera yang jawa.

Tatok :
Jawabannya adalah sederhana membiasakan diri saja.

Ika :
Ya sudah apa adanya. Dilakoni saja

Gun :
Ane budaya itu kan ada yang bisa dipelajari dan yang sudah gawan bayi. Nah yang penting adalah bagaimana bis amencari kita sendiri.
Didit :
Kebali pada tanah artinya bahwa yang saya tankap aalah dikaitkan denan pencarian ati diri. Di jawa orang itu ada yang bisa didunungke ada yang bisa mencari sendiri.
Tatok :
Kosmologi jawa itu jelas jawa itu pusat ! itu sama dengan orang israel bahwa pusat itu ada di yerusalem. Berbeda dengan orang barat bahwa kita ini orang surgawi, tapi bagi orang jawa ini beneran semakin jauh dari pusat berbahaya hidupnya/

Tatok :
Orang transsmigran sukses itu adalah jika mereka dapat menyekolahkan anaknya di jawa dan pada akhirnya merekapulangg juga ke jawa.
Teerdiri dari Tiga lapis :
1. Transmigran dream
2. Orang jawa yang tidak beruntung
3. Tetap meras a jawa meski di perantauan

Gun :
rang mati kok diselamati

Tatok :
Memberi penhiburan kepada yang ditinggal. Untuk memberi penghiburan kepad ayang ditinggal untuk memberi keyakinan kepaa yang ditinggal bahwa yang meninggal itu adalah orang yang selamat.

Tatok :
Bagaimana kita begitu riupad dibatasi oleh berbagai acam batasan dan itu membangun kesadaran. Pada hakekatnya orang senang membuat batasan-batasan.


Gun:
Mungkin yang dimaksudkan mas vicky adalah supaya dinaggap menjadi jawa.

Vicky :
Tanah menjadi kiblat atau tanah ebagai penuujang kehidupan ?

Tatok :
Bagaimana jika perspektif itu lebih diluaskan

Vicky :
Kiblat orang jawa dimana ?

Gun :
Tidak ada ! msalnya blowoki pada saat akan tandur !

Didit :
Pemahaman tanah tidak perlu memperlihatkan identitas diri sebagai orang ……

Tatok :
Baaimana dengan batas-2 tersebut bahwa itu adalah membuat batasan tersebut.

Gun :
Carane kamu itu kemaki misalnya kulo bade kondur ? rak dengkulmu mlocot !

Tatok:
Pertemuan selanjutnya di T4 Kristi